Featured Post

Cara Mudah Mendapatkan Cuan dari Internet, Cukup di Rumah Aja

Halo kawan semua, gimana kabarnya hari ini? Masih di rumah saja kan? Semoga selalu sehat dan kalau bisa diam di rumah saja ya sementara wak...

8/10/16

Jatuh Bangun Demi Memberikan ASI Kepada Buah Hati


Hai semua, masih saja saya lambat update karena keterbatasan waktu dan tenaga. Dalam rangka menyemarakan Pekan ASI Dunia, kali ini saya akan share tentang cerita ASI anak pertama dan anak kedua saya. Dua-duanya saya mengalami kendala dalam pemberian ASI.

Anak pertama saya meninggal saat dilahirkan. Awalnya saya berfikir, ASI saya tidak akan keluar karena tidak ada tetesan yang keluar. Namun 3 hari pasca melahirkan payudara saya membengkak, dan ternyata ASI saya keluar. Karena minimnya pengetahuan tentang ASI, saya sempat bingung juga bagaimana cara menanganinya. Rasanya sakit sekali dan badan pun menjadi panas dingin. Akhirnya ada bibi dari suami saya meminjamkan pompa asi miliknya. Katanya saya harus mengeluarkan ASInya agar payudara tidak bengkak lagi. ASI hasil dari pompa kemudian saya buang karena saya bingung mau diapakan, lagi-lagi saya masih minim pengetahuan tentang ASI. Padahal ASI yang saya buang bisa saya donorkan ke anak ASI, yah penyesalan selalu datang terlambat. Seadainya anak saya masih hidup mungkin ASI saya tidak akan terbuang percuma, sedih sekali jika mengingatnya. Ini berlangsung selama 7 hari saja, setelah 7 hari ASI saya dengan sendirinya tidak keluar lagi.

Saat hamil anak kedua saya pun bertekad akan memberikan ASI ke anak saya, namun sayangnya keinginan kuat saya tidak diiringi dengan keinginan untuk belajar tentang serba-serbi ASI. Yang saya pelajari hanya makanan apa saja yang dapat membuat ASI keluar banyak. Saat anak kedua saya lahir, sama bidan anak saya langsung ditaruh diatas dada saya agar bisa IMD. Namun ternyata anak saya memilih untuk diam tidak mencari ASI, akhirnya anak saya gagal IMD dan anak saya diangkat untuk dibersihkan. Setelah dibersihkan anak saya pun hanya tidur saja, tidak meminta ASI. Suster menyarankan untuk membangunkan agar anak saya mau menyusu.

Lagi-lagi akibat kurang edukASI saya bingung bagaimana cara memberi ASI karena payudara saya putingnya rata atau tidak keluar keduanya. Suster menyarankan saya untuk membeli nipple sambungan untuk memudahkan anak saya menyusu. Namun usaha saya gagal, ternyata memakai nipple sambungan sulit tidak melekat sempurna sehingga sulit anak saya dapat menyusu lama. Untungnya anak saya tidak rewel, setelah lahir dia lebih sering tidur tidak menangis. Saya pun berusaha memompa payudara, namun ASI masih saja belum keluar. 

Pagi harinya saya mencoba memeras dengan tangan dan Alhamdulillah ASI keluar, ASI yang keluar masih bewarna kuning. ASI pertama saya tidak saya buang, saya berikan ke anak saya walau baru keluar sedikit saja. Satu sendok makanpun tidak ada saat itu. Oh iya saya memberikan ASI saya dengan menggunakan sendok, karena puskesmas tempat saya melahirkan sangat pro ASI melarang pasiennya memberikan sufor ataupun ASI menggunakan dot. Saya sempat kwatir karena ASI saya sangat sedikit sekali hanya keluar beberapa tetes saja, saya berfikir apa cukup untuk anak saya. Bidan menenangkan saya, dia bilang bayi baru lahir memiliki cadangan makanan selama 3 hari. Jadi masih ada waktu untuk saya terus berusaha membuat ASI saya bisa keluar. Saya menjadi tenang mendengarnya.
pic from google

Berbeda cerita saat saya sudah pulang kerumah, bisikan sana dan sini akhirnya membuat saya menyerah. Akhirnya saya memberikan sufor untuk anak saya, jujur saya tidak rela namun saya menyerah mendengarkan omongan sana dan sini. Saya semakin semangat memompa ASI saya, setiap tetes ASI yang keluar saya berikan ke anak saya. Hingga dihari ketiga Alhamdulillah ASI saya sudah keluar deras, hasil pompa saya taruh dibotol kaca khusus ASI dan saya simpan dalam kulkas. ASI dalam botol saya hangatkan jika sudah waktunya menyusui anak saya. Ini berlangsung sampai anak saya berusia satu bulan.

pic from google
Kenapa saya masih memompa? tidak memberikan langsung saja ke anak saya? Lagi-lagi ini kesalahan saya yang kurang edukASI, anak saya terbiasa menyusu ASI menggunakan dot sehingga dia bingung puting. Dukungan dari suami saya untuk menyusui langsung anak saya, membuat saya tidak menyerah mencoba. Awalnya anak saya selalu menangis karena bingung puting, lambat laun usaha saya Alhamdulillah berhasil anak saya mau menyusu langsung ke saya tanpa dot.

Selesaikah permasalahan ASI untuk anak kedua saya? Masih belum selesai, karena anak saya hanya menyusu di payudara saya sebelah kanan. Payudara kiri saya masih belum keluar putingnya, karena anak saya sempat mengalami bingung puting sehingga kesulitan untuk menyusu disebelah kiri. Dan saya pun tidak berusaha untuk mencoba terus sehingga payudara kiri saya produksi ASInya menurun hingga akhirnya tidak ada ASI yang keluar. Menyesal jika saya mengingatnya, seandainya mau berusaha lebih kuat lagi pasti anak saya bisa menyusu di payudara kiri dan kanan. 

Seiring berjalannya waktu, saya sudah tidak memakai pompa ASI lagi dan dot sudah saya pensiunkan. Alhamdulillah walau hanya menyusu di satu payudara saja, saya bisa membawa anak saya sampai lulus ASI sampai S3. Namun sampai sekarang saya masih menyesal tidak bisa membawa anak saya lulus ASI S1 dengan nilai A++ karena sempat minum sufor beberapa kali walau tidak banyak. 

Dengan bekal pengetahuan ASI hasil saya membaca sana sini dan pelajari dari grup di FB tentang sharing ASI, insyaAllah saya bertekad untuk membawa anak ketiga saya lulus ASI dengan nilai A++ Aamiin semoga tidak ada halangan.

Beberapa hal harus saya koreksi untuk anak ketiga saya  nantinya. Selama kehamilan saya harus menjaga asupan gizi, makan dengan gizi seimbang perbanyak minum air putih, perbanyak makan sayuran dan buah-buahan. Saat kehamilan 7 bulan saya harus sudah mulai melakukan stimulasi agar nantinya ASI akan keluar saat melahirkan, bisa dengan melakukan massage. Kenapa harus menunggu 7 bulan karena katanya bisa memicu kontraksi jadi berbahaya kalau dilakukan sebelum kandungan dibawah 7 bulan. Tidak ada lagi permasalah puting yang tidak keluar, karena kini saya tahu bayi menyusu tidak diputing tetapi diareola payudara jadi tidak perlu kwatir dengan puting yang tidak keluar. Say NO untuk dot, saya memilih nantinya memberikan anak saya ASI menggunakan sendok, gelas atau pipet agar tidak ada lagi masalah bingung puting. NO untuk sufor juga bukan anti sufor, namun kalau bayi meminum sufor dia akan kenyang dan tidak mau menyusu ASI. Ini yang bisa membuat produksi ASI menurun, semakin sering bayi menyusu maka semakin banyak produksi ASI.
pic from google

Terkadang saya sedih jika melihat ibu-ibu disekitar saya yang memilih memberikan MPASI diusia anak 5 bulan dengan alasan ASInya kurang. Saya sempat bertanya kepada mereka, mereka tahu darimana ASI kurang. Jika payudara dipencet dan ada ASI yang keluar maka bisa dipastikan ASI masih banyak dan cukup untuk anak. Jika anak menyusu namun malah menangis seperti kehausan, bisa jadi anak sedang mengalami growth sprut (percepatan pertumbuhan bayi) atau ada hal lain yang membuat anak tidak nyaman, bukan menyalahkan ASI yang kurang. Sayangnya ceramah saya tidak ditanggapi oleh mereka, mungkin saya termasuk ibu baru jadi dianggap masih minim pengalaman. Tapi senang juga saya sekarang ada iklan layanan masyarakat tentang pemberian ASIX, setidaknya bisa menyentil beberapa dari mereka. 

Tidak ada yang tidak mungkin bisa memberikan ASI ke anak, asal kita mau berusaha. Namun jika memang sudah terlanjur terjadi, tidak perlu disesalkan bisa berusaha lagi untuk anak selanjutnya. Pemberian ASI juga bagus loh untuk kesehatan kita para wanita, bisa mencegah kanker payudara. So never gives up ya Moms.



CatatanRia.com

9 comments:

  1. Insya Allah lancar kasih asi sampai 2 tahun, ada kepuasa sendiri kalau berhasil

    ReplyDelete
  2. Aku dulu juga pake nipple shield karena gak tahan putingku lecet.. tapi malah bikin bingung puting ternyata, berat badan anakku cuma naik dikit banget.. untung bingputnya gak lama2 jadi alhamdulillah bisa sampe 2th +++.. sampe sekarang masih nyusu, :D

    ReplyDelete
  3. Yang paling bikin goyah adalah omongan orang sekitar apalagi dng nada menakuti... Dulu, saya memilih menutup telinga dan rela dibilang ibu gak sayang anak/pelit karena gak kasih sufor... Hehe

    ReplyDelete
  4. Suka bingung sama ibu2 yang merasa enggan sekali ngasih ASI, padahal banyak diantara ibu2 tersebut yang masih sehat tanpa ada halangan apapun untuk meyusui anak (T^T)
    Nice share btw..

    ReplyDelete
  5. wauw komplit artikelnya mbak...memang ASI adalah anugerah terindah dari Sang Illahi bagi sang buah hati :)

    ReplyDelete
  6. Eh kalo asi ngak keluar sampe meriang2 gitu yaaa, ternyat aberat yaa perjuangan jadi ibu

    ReplyDelete
  7. Faraz Alhamdulillah IMD dapat tapi dia juga sempat dapat sufor, huhuhuh nyesel banget deh itu, padahal dapatnya itu di RS loh. Hikkss, kayaknya nanti klo dikasih rejeki lg punya anak, benar2 mau kekeuuhh utk full ASI tanpa campuran sufor sekalipun.
    Sehat terus yaahh Bumil :*

    ReplyDelete
  8. Faraz juga lebih suka nen di PD kanan, jadi deh ini PD sizenya besar sebelah tp gpp, katanya klo udh slesai ASI bakalan ke bentuk semula.

    Hiyaaa, tp rasanya gak pengen berhenti ngeASI, itu jadi me time saya dengan nya setelah seharian ditinggal, huhuhuh

    ReplyDelete
  9. Dukungan dari keluarga dan lingkungan menjadi salah satu keberhasilan ASI ya mba... bisikan dibilang ndak sayang anak dan sejenisnya kadang bkin hati panas ya mba... semoga semakin banyak Ibu yang peduli untuk ASI anaknya...

    ReplyDelete

Maaf ya sekarang kotak komentarnya aku moderasi
Gak ada maksud apa-apa koq ^^
Cuma waspada aja dengan Spam :D
Silahkan komen anything ^_____^V